--> Ahli AS Mengklaim Obat Kanker Eksperimental Bisa Hentikan COVID-19 | Teknopartner.id

Rabu, 29 April 2020

Ahli AS Mengklaim Obat Kanker Eksperimental Bisa Hentikan COVID-19

| Rabu, 29 April 2020
Teknopartner.id, Jakarta - Para peneliti dari University of Louisville, Kentucky, Amerika Serikat, menyebutkan tentang obat kanker eksperimental yang bisa menghentikan virus corona dengan menghambat virus bereplikasi.

sumber: Ajnn

Mereka menyampaikan, obat DNA sintetis yang diberi nama aptamer itu bisa membuat virus tidak menyebar dalam tubuh melalui cara yang sama pada kanker, yaitu dengan membekukan pertumbuhan tumor.

Aptamer telah ditemukan oleh tim penelitian yang dikomandoi oleh profesor kedokteran Paula Bates. Seperti ilmuwan lainnya, dia ingin membantu saat mendengar informasi mengenai virus corona.

“Saya mulai berpikir tentang bagaimana bidang penelitian saya mungkin bersinggungan dengan upaya penelitian virus corona," ujarnya, seperti dikutip laman Daily Mail, Sabtu, 24 April 2020.


Aptamer bisa mengikat protein yang bernama nukleolin berada di permukaan sel. Studi sebelumnya menjelaskan bahwa aptamer mampu mencegah berbagai jenis kanker dari pembajakan nukleolin, mereplikasi penyakit  serta menginfeksi sel-sel lain.

Bates kemudian menerangkan, teknologi yang dia dan timnya rancang itu bisa dimanfaatkan untuk mencegah virus yang dapat menggandakan dirinya serta menyebar ke seluruh tubuh. Dia berencana melaksanakan penelitian lanjutan di Laboratorium Biokontainmen Regional, University of Louisville, yang menjadi salah satu dari 12 laboratorium biokontainmen regional di Amerika.

Laboratorium itu memiliki fasilitas Biosafety Level 3 yang dapat menjaga para peneliti dari paparan patogen yang sedang mereka periksa. Bates menyebutkan dia sudah menguji obat dalam sel, tapi dia berharap untuk dapat langsung melakukan uji klinis pada manusia.

"Biasanya pengembangan obat dari awal memerlukan waktu bertahun-tahun dan Anda harus membuat banyak pengujian pada hewan untuk mencoba serta memastikan bahwa itu aman," kata Bates.

Karena ini sudah diuji pada pasien kanker, Bates menuturkan, dia dan tim berencana untuk mamakainya dan dosisnya dengan cara yang sangat mirip untuk pasien yang mempunyai COVID-19. “Kami berharap kami dapat memotong banyak waktu di sana,” tutur dia.

Bates juga sangat berharap timnya memperoleh persetujuan Badan Pengawas Obat dan Makanan Amerika (FDA) langsung agar bisa memulai uji coba. Karena vaksin bisa menghabiskan waktu antara 12 dan 18 bulan sebelum tiba di pasaran, ia menuturkan perawatan itu bisa membantu memperlambat penyebaran.

Menurut Bates, pasien dapat memperoleh perawatan ini sejak dini untuk menghentikan penyebaran virus di dalam tubuh mereka. Dan, dia berujar, itu akan menghentikan mereka dari sakit parah, bahkan menyembuhkan orang yang sudah sakit parah karena virus corona.

"Ada beberapa bukti yang dapat dipercaya bahwa jika Anda dapat mengurangi jumlah virus dalam tubuh, akan mengurangi penyebaran lebih lanjut,” ujar Bates. (ahm)

Related Posts

Tidak ada komentar:

Posting Komentar