--> Teknopartner.id: Sains | Informasi Teknologi Terpercaya, Kekinian, dan Bermanfaat
Tampilkan postingan dengan label Sains. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sains. Tampilkan semua postingan

Rabu, 29 April 2020

Ahli AS Mengklaim Obat Kanker Eksperimental Bisa Hentikan COVID-19

Ahli AS Mengklaim Obat Kanker Eksperimental Bisa Hentikan COVID-19

Teknopartner.id, Jakarta - Para peneliti dari University of Louisville, Kentucky, Amerika Serikat, menyebutkan tentang obat kanker eksperimental yang bisa menghentikan virus corona dengan menghambat virus bereplikasi.

sumber: Ajnn

Mereka menyampaikan, obat DNA sintetis yang diberi nama aptamer itu bisa membuat virus tidak menyebar dalam tubuh melalui cara yang sama pada kanker, yaitu dengan membekukan pertumbuhan tumor.

Aptamer telah ditemukan oleh tim penelitian yang dikomandoi oleh profesor kedokteran Paula Bates. Seperti ilmuwan lainnya, dia ingin membantu saat mendengar informasi mengenai virus corona.

“Saya mulai berpikir tentang bagaimana bidang penelitian saya mungkin bersinggungan dengan upaya penelitian virus corona," ujarnya, seperti dikutip laman Daily Mail, Sabtu, 24 April 2020.


Aptamer bisa mengikat protein yang bernama nukleolin berada di permukaan sel. Studi sebelumnya menjelaskan bahwa aptamer mampu mencegah berbagai jenis kanker dari pembajakan nukleolin, mereplikasi penyakit  serta menginfeksi sel-sel lain.

Bates kemudian menerangkan, teknologi yang dia dan timnya rancang itu bisa dimanfaatkan untuk mencegah virus yang dapat menggandakan dirinya serta menyebar ke seluruh tubuh. Dia berencana melaksanakan penelitian lanjutan di Laboratorium Biokontainmen Regional, University of Louisville, yang menjadi salah satu dari 12 laboratorium biokontainmen regional di Amerika.

Laboratorium itu memiliki fasilitas Biosafety Level 3 yang dapat menjaga para peneliti dari paparan patogen yang sedang mereka periksa. Bates menyebutkan dia sudah menguji obat dalam sel, tapi dia berharap untuk dapat langsung melakukan uji klinis pada manusia.

"Biasanya pengembangan obat dari awal memerlukan waktu bertahun-tahun dan Anda harus membuat banyak pengujian pada hewan untuk mencoba serta memastikan bahwa itu aman," kata Bates.

Karena ini sudah diuji pada pasien kanker, Bates menuturkan, dia dan tim berencana untuk mamakainya dan dosisnya dengan cara yang sangat mirip untuk pasien yang mempunyai COVID-19. “Kami berharap kami dapat memotong banyak waktu di sana,” tutur dia.

Bates juga sangat berharap timnya memperoleh persetujuan Badan Pengawas Obat dan Makanan Amerika (FDA) langsung agar bisa memulai uji coba. Karena vaksin bisa menghabiskan waktu antara 12 dan 18 bulan sebelum tiba di pasaran, ia menuturkan perawatan itu bisa membantu memperlambat penyebaran.

Menurut Bates, pasien dapat memperoleh perawatan ini sejak dini untuk menghentikan penyebaran virus di dalam tubuh mereka. Dan, dia berujar, itu akan menghentikan mereka dari sakit parah, bahkan menyembuhkan orang yang sudah sakit parah karena virus corona.

"Ada beberapa bukti yang dapat dipercaya bahwa jika Anda dapat mengurangi jumlah virus dalam tubuh, akan mengurangi penyebaran lebih lanjut,” ujar Bates. (ahm)

Selasa, 28 April 2020

Pentagon Berhasil Mengambil 3 Video Penampakan UFO di Langit

Pentagon Berhasil Mengambil 3 Video Penampakan UFO di Langit

Teknopartner.id - Departemen Pertahanan AS, Pentagon, baru saja mengungkap tiga video pendek "fenomena asing di langit" yang diduga sebagai penampakan UFO (Unidentified Flying Object). Mulanya benda itu diduga adalah drone. 

Benda itu bergerak dengan cepat dan terekam kamera inframerah milik angkatan laut AS. Terdengar pula suara seorang pilot yang mengungkapkan kekagumannya akan benda asing tersebut. 

Penampakan yang Diduga adalah UFO oleh Pentagon

Sebelumnya, pada bulan September 2019 lalu, angkatan laut AS telah mengakui kebenaran adanya serangkaian video penampakan diduga UFO yang mereka tangkap. Dan kini, giliran Juru Bicara Pentagon, Sue Gough, yang angkat bicara soal kebenaran video tersebut.

“Setelah melakukan peninjauan menyeluruh, departemen memutuskan bahwa perilisan resmi dari video tak terklasifikasi ini tidak mengungkapkan kemampuan atau sistem yang sensitif, serta tidak melanggar investigasi apa pun atas serbuan wilayah udara militer oleh fenomena udara tak dikenal,” ujar Gough.

Video yang diduga UFO itu pertama kali dirilis oleh To The Stars Academy of Arts & Sciences. Organisasi yang didirikan oleh mantan personel band Blink-182, Tom DeLonge, antara Desember 2017 hingga Maret 2018.

Video itu diketahui diambil oleh Angkatan Laut Amerika Serikat saat mereka melakukan latihan angkatan militer sekitar tahun 2004 dan 2015. Kala itu, kapal penjelajah milik Angkatan Laut AS yang berlayar sekitar 160 kilometer di lepas pantai California selatan, tak sengaja mendeteksi sinyal radar aneh yang berasal dari sebuah objek di langit.

Sinyal-sinyal tidak dikenal muncul secara tak menentu. Angkatan Laut kemudian mengerahkan pesawat jet tempur untuk melihat lebih dekat titik objek berada. Tiba-tiba, salah satu pesawat tak sengaja merekam pergerakan sebuah benda yang diduga UFO. Video hitam putih itu kemudian dirilis ke publik pada tahun 2017, bersama dua video penampakan UFO lainnya.

David Fravor, pensiunan pilot Angkatan Laut AS,  yang melihat kejadian tersebut mengatakan, "Ketika saya mendekati itu (benda asing), ia dengan cepat melaju ke selatan, dan menghilang dalam waktu kurang dari dua detik."


Lanjutnya, "Kejadiannya sangat mendadak, seperti bola pingpong, memantul dari dinding dan pergi ke arah lain."

Pentagon telah melakukan penelitian ihwal rekaman pertemuan pesawat militer AS dengan 'UFO' sebagai bagian dari program rahasia yang diluncurkan pada 2007 dan berakhir pada 2012 oleh mantan Senator, Harry Reid. Sayang, program rahasia itu terhenti dengan alasan ada penelitian lain yang lebih penting dan membutuhkan pendanaan.

Meski begitu, Luis Elizondo, mantan kepala program rahasia tersebut, meyakini bahwa manusia tidak hidup sendirian di alam semesta. Artinya, ia percaya bahwa alien itu memang ada. (ded)  

Rabu, 22 April 2020

5 Fakta Menarik Tentang Laboraturium di Kota Wuhan (China)

5 Fakta Menarik Tentang Laboraturium di Kota Wuhan (China)

Teknopartner.id--Belakangan ini salah satu yang di sebut-sebut sebagi penyebar virus covid-19, yaitu china tepanya di kota wuhan, di sanalah terdapat salah satu laboraturium yang jadi sorotan sebagai sumber penyebaran covid-19.

Laboraturium Wuhan (Teknopartner.id)

Nah, ada beberapa fakta menarik berkenaan dengan laboraturium yang katanya sumber dari viru tang mewabah saat ini:

1.Biaya Pembangunan yang fantastis

Biaya pembangunan untuk labor tersebut mencapai $42 Juta atau sekitar Rp 650 Juta, ini bukan angka yang kecil, jika di perkirakan dengan biaya sebesar itu, pastinya labor tersebut memiliki kualitas yang mempuni, masa pembanguan labor itu sendiri di mulai dari tahun 2003 dan rampung 2015, serta peresmian pada tahun 2018.

2.Memiliki Koleksi Virus

Institut tersebut adalah pusat China Centre for Virus Culture Collection, yaitu semacam bank virus dengan jumlah terbesar di wilayah Asia. Menurut websitenya, sedikitnya ada 1.500 jenis virus diteliti di sana, sebagian berbahaya.


Laboratorium milik WIH punya level keamanan lab tingkat maksimum yang didesain untuk menangani patogen Class 4 (P4), merupakan sebutan untuk virus berbahaya bagi manusia seperti ebola. Selain itu, terdapat pula laboratorium terpisah dengan level P3.

3.Wabah SARS Jadi Penyebab di bangunya Labor tersebut

Akibat terjadinya wabah SARS pada tahun 2002 dan 2003, pada saat itulah china memutuskan untuk membangun laboraturium , guna untuk meneliti wabah virus SARS, jenis lain dari virus corona, membunuh 775 orang dan menginfeksi lebih dari 8.000 penderita.

4.Bantuan dari perancis untuk pembangunan

Lab pemilik negara Eropa di perancis, yaitu Alain Merieux, juga ikut terlibat dalam pembangunan laboraturium tersebut melalui Centre International de Recherche en Infectiologie


5.Ikut Didanai Amerika Serikat

Selain Negara perancis salah satu dana bantuan tersebut juga datang dari negara Amerika Serikat, yang di mana salah satu lemabag kesehatan di AS, yaitu  US National Institute of Health, ikut menyumbangka dana sebesar $3,7 Juta, Laboratorium tersebut juga berkolaborasi erat dengan lembaga di AS dan Kanada, yaitu Galveston National Laboratory di University of Texas dan National Microbiology Laboratory di Kanada.(Als)

Selasa, 21 April 2020

Penelitian NASA Terbaru: Emas Bisa Tingkatkan Oksigen di Mars  Emas di Bumi Siap-Siap Diangkut

Penelitian NASA Terbaru: Emas Bisa Tingkatkan Oksigen di Mars Emas di Bumi Siap-Siap Diangkut

Teknopartner.id - Selama ini sejumlah ilmuwan NASA berusaha keras untuk dapat mengungkap misteri kenaikan dan penurunan kandungan oksigen di planet Mars diduga sebagai planet masa depan itu.

Pada Tahun 2019 lalu, NASA berhasil menemukan atom oksigen di atmosfer Mars, tepatnya mesosfer. Penemuan kadar oksigen di planet Mars ini menjadi momen pertama dalam 40 tahun terakhir.

Sebuah robot Curiosity Rover, digunakan ilmuwan NASA untuk mentahui apa saja kandungan yang ada di atmosfer planet Merah tersebut.

image: ilustrasi kehidupan di mars
atmosfer Mars mengandung 95% CO2. Atmosfernya yang tipis ini juga memiliki kandungan 2,6% nitrogen, 1,9% Argon, dan 0,16% oksigen. Dengan kandungan oksigen 0,16% ini mars dianggap belum bisa dijadikan tempat kehidupan manusia dalam waktu dekat.

Namun ketika terjadi perubahan musim di planet merah tersebut maka terjadi peningkatan kadar oksigen secara drastis. Ketika musim panas dan musim semi, kadar oksigen di planet Mars bisa melonjak tajam. Bahkan peningkatannya bisa mencapai 30%. Kalau angka segini bisa nggak ya, menghidupi beberapa orang? 


Kenaikan kadar oksigen secara misterius ini bertahan sampai musim gugur. Di mana ketika musim gugur, oksigen akan kembali turun ke tingkat normalnya. Terkait peningkatan kadar oksigen ini, para ilmuwan masih terus mempelajarinya.

Para ilmuwan Caltech pun menciptakan reaktor canggih untuk mengatasinya. Sebuah laporan yang diterbitkan dalam jurnal Nature Communications, alat reaktor canggih yang digunakan para ilmuwan tersebut mampu mengekstraksi karbon dioksida menjadi oksigen.

Kandungan karbon dioksida sendiri didapatkan dari komet dan melibatkan kertas emas. Penggunaan kertas emas ini bukan tanpa alasan tentunya.

Emas merupakan elemen lembam yang dipercaya mampu membuat oksigen yang berasal dari reaksi kimia antara CO2 dan emas. Dimana hal tersebut juga mampu berpengaruh terhadap kadar oksigen di planet Mars menjadi lebih stabil.

Jika benar emas diklaim mampu meningkatkan kadar oksigen di planet Mars, kira-kira berapa ton emas bumi yang harus di bawa ke sana, ya Sobat? (Ded)

Kamis, 16 April 2020

OMG, Ternyata Otak Manusia Bisa Berubah jika Lama-Lama di Luar Angkasa

OMG, Ternyata Otak Manusia Bisa Berubah jika Lama-Lama di Luar Angkasa

Teknopartner.id – Kemauan buat pergi ke luar angkasa nampaknya perlu dipikir lagi. Sebab terletak satu bukti yang mengatakan bila habiskan waktu di luar angkasa dapat mengganti otak manusia. 

sumber : Popular Science

Dari situs Ruang, Kamis, 16 April 2020, periset sudah lakukan studi bagaimana penerbangan ke luar angkasa dapat memengaruhi fisiologi serta kesehatan manusia. Dalam studi diketemukan banyak langkah jika luar angkasa mengganti badan kita. 

Studi yang paling paling baru memperlihatkan jika pesawat luar angkasa mempunyai peranan memengaruhi otak manusia secara aneh serta tidak biasa. Serta dapat mengakibatkan kerusakan pandangan asronot dalam periode waktu yang lumayan lama. 


Beberapa astronot sudah memberikan laporan permasalahan penglihatannya sesudah perjalanan ke luar angkasa. Pelajari yang dilaksanakan team medis temukan saraf optik mereka membengkak serta beberapa alami pendarahan pada retina dan beberapa perkembangan susunanal pada indera penglihatannya. 

Ilmuwan menyangka permasalahan ini dikarenakan oleh desakan di kepala selama saat penerbangan. Larry Kramer, dalam studi temukan jika desakan ini tingkatkan style berat mikro. 

Team lakukan MRI pada otak pada 11 astronot sebelum mereka lakukan perjalanan ke luar angkasa sampai kembali lagi sesudah setahun disana. Hasilnya memperlihatkan otak membengkak serta cairan yang melingkari otak serta sumsum tulang belakang volumenya bertambah. 

Kelenjar hipofisis yang terletak di otak menjadi padat. Dampak semacam ini masih mereka rasakan walau telah melalui setahun dari pulangnya mereka. 

Perlu studi selanjutnya buat tahu bagaimana style berat mikro memengaruhi otak astronot serta bagaimana mereka jadi tidak sama dengan manusia yang lain. 

"Tanpa ada gravitasi cairan pada tubuh kita tidak tersebar dengan cara rata, cuma bergerak di kepala tanpa ada mengalir ke kaki. Itu bukan suatu hal yang biasa kita alami di Bumi, terkecuali bila kamu berdiri di atas tanganmu, " papar Larry. (ahm)
Bintang Tsurayya sudah Muncul, Benarkah Tanda Wabah Corona akan Berakhir?

Bintang Tsurayya sudah Muncul, Benarkah Tanda Wabah Corona akan Berakhir?


Teknopartner.id – Pandemi COVID-19 yang terus berlanjut dan justru korbannya terus bertambah di berbagai belahan dunia tentu membuat semua orang berharap besar akan berakhirnya wabah terbesar di abad 21 ini.

Berbagai upaya dilakukan masyarakat di berbagai daerah, mulai dari yang logis sampai pada hal yang paling konyol sekali pun. Semua dilakukan tidak lain untuk bisa terbebas dari wabah yang mematikan ini.

Kabar baik akhirnya datang dari Pakar Hisab dan Rukyat Kementerian Agama Republik Indonesia, KH Muhammad Thobary Syadzily beliau mengungkapkan bahwa virus corona ini akan berakhir ketika munculnya Bintang Tsurayya atau Bintang Kartika atau Bintang Tujuh Bersaudari. 

Bintang Tsurayya tersebut diperkirakan muncul pada pertengahan bulan Juni 2020 nanti. Perkiraan yang dilakukan Pakar Hisab dan Rukyat ini menggunakan ilmu falak (astronomi) dan ilmu hikmat As-Sirrul Jalil. Jika perkiraan itu benar, berarti kita perlu bersabar sekitar satu bulan saja.

Bintang Tsurayya merupakan gugusan  bintang Pleiades yang dapat terlihat di belahan bumi bagian utara pada bulan Oktober dan akan menghilang pada bula April. Menurut sumber Wikipedia, Pleiades atau gugus kartika  adalah gugus bintang yang bisa dilihat dengan jelas dengan mata telanjang.

Pleiades merupakan contoh dari gugusan bintang terbuka yang semuanya lahir pada waktu yang bersamaan dari awan gas dan debu raksasa. Bintang-bintang yang paling terang dalam formasi sinar biru nan panas dan terbentuk dalam 100 juta tahun terakhir.

image: kabarmakkah.com


Pada gugus bintang Pleiades terdapat 800 bintang yang terletak sekitar 410 tahun cahaya dari bumi. bintang Pleiades atau bintang Kartika ini memang sudah sejak lama menjadi kisah dalam mitologi Jawa.

gugus bintang Pleiades biasanya dipercaya sebagai awal yang baru ketika ia muncul. Semoga saja prediksi dengan ilmu falak dan paham mitologi ini benar adanya sehingga kita semua dapat segera bebas dari ancaman pandemic COVID-19 ini.

BACA JUGA: NASA dan Tim Nova-C segera Bangun Kehidupan di Bulan dalam Waktu Dekat

tetntunya, yang terpenting adalah kita selalu berdoa kepada Allah agar wabah ini benar-benar dihilangkan olehNya. (Ded)

Rabu, 15 April 2020

Terbaru: Kanada Ciptakan “Pandemi Drone” untuk Deteksi Orang dengan Gejala COVID-19

Terbaru: Kanada Ciptakan “Pandemi Drone” untuk Deteksi Orang dengan Gejala COVID-19

Teknopartner.id - Merebaknya novel corona virus atau lebih dikenal dengan COVID-19 membuat manusia semakin kreatif untuk memikirkan solusi pemecahan masalah tersebut.

Fenomena drone sebagai pengontrol keamanan, patrol, dan sarana himbauan selama masa pandemi ini sudah sangat banyak dilakukan oleh berbagai negara. 

Di Asia Tenggara saja, Malaysia menjadi negara yang turut menggunakan drone yang dilengkapi petasan api sebagai sarana penghalau masa yang berkumpul-kumpul membuat keramaian.

Seperti bisa kita saksikan di berbagai media sosial beberapa waktu yang lalu.

Negara Inggris dan Amerika juga melakukan hal yang sama untuk mengingatkan masyarakat mereka yang berkeluyuran di jalan menggunakan drone yang dilengkapi dengan pengeras suara.

Nah, kali ini kabar baik nan brilian datang dari negara Kanada. Tidak tanggung-tanggung, Perusahaan Kanada Draganfly berhasil memproduksi “Drone Pandemi” yang dapat mendeteksi kesehatan seseorang.
image: google.com/drone pandemic


Drone Pandemi ini merupakan hasil kerjasama Kanada Draganfly dengan Departemen Pertahanan Australia dan Universitas Australia Selatan.

Dilansir dari sputniknews, Drone Pandemi ini dilengkapi dengan kamera dan sensor khusus dengan kemampuan pemantauan kesehatan.

Dari demonstrasi video yang ditayangkan oleh Kanada Draganfly menunjukan quadcoptersnya menggunakan sistem visi computer yang mampu mengumpulkan informasi denyut jantung, suhu tubuh, dan kondisi pernapasan seseorang.

Dengan demikian, jika “Drone Pandemi” ini mengenai seseorang yang terpapar COVID-19 maka ia akan menampilkan informasi yang jelas dan akurat.


Proyek “Drone Pandemi” ini menghabiskan anggaran dana yang tidak sedikit tentunya. Kanada Draganfly harus mengeluarkan anggaran sebesar $ 1,5 juta. Tetapi dengan keunggulannya yang terbilang Wow tentu saja itu dapat terbayar. 

 “Drone Pandemik” sangat cocok digunakan di tengah keramaian populasi masyarakat, wilayah yang rentan COVID-19, fasilitas umum, perbatasan wilayah dan yang lainnya. 

Menurut data dari  Universitas Johns Hopkins, Draganfly akan mempercapat produksi dan distribusi  “Drone Pandemik” ini untuk dikomersilkan.

Mengingat semakin cepatnya Pandemik COVID-19 ini menyebar.   Hingga hari ini, 15 April 2020 penderita pandemic ini mencapai 1.981.239 jiwa. (Ded)

Astaga, Satelit Nusantara Dua Milik Indosat Ooredoo di Kabarkan Jatuh

Astaga, Satelit Nusantara Dua Milik Indosat Ooredoo di Kabarkan Jatuh

Teknopartner.id - Kabar tidak mengenakan datang dari dunia teknologi tanah air. Satelit Nusantara Dua milik perusahaan telekomunikasi terkemuda di Indonesia, Indosat Ooredoo. dikabarkan jatuh ke laut di sekitaran daerah Guam, yang merupakan pulau kecil di Wilayah Pasifik, Amerika Serikat.

Hal ini diketahui setelah beberapa waktu terjadi kabut asap yang diselimuti api serupa kembang api terlihat di langit Guam. Setelah petugas melakukan identifikasi barulah diketahui objek tersebut adalah satelit Nusantara Dua yang gagal mengorbit.

Awalnya masyarakat setempat mengira fenomena tersebut adalah hujan meteor yang mirip dengan fenomena pada bulan Desember 2019 lalu ketika bola api melintasi langit mereka hingga beberapa detik lamanya.

Image: google/satelit

Adi Rahman Adiwoso, selaku Direktur Utama Pasifik Satelit Nusantara (PSN) memberi tanggapannya mengenai gagalnya satelit Nusantara Dua mencapai orbitnya pada tanggal 9 April 2020 lalu.

Ia mengatakan bahwa dua roket yang mereka luncurkan pada stage ketiga tersebut hanya satu yang berfungsi.  Sehingga kecepatannya tidak cukup untuk masuk ke area orbit yang ditentukan.

Kecepatan roket Long March 3B  pengantar satelit tersebut hanya 7100 meter per detik. Sehingga ketinggian yang dapat dicapai hanya 170 KM.

Adi juga menambahkan bahwa satelit Nusantara Dua tersebut tidak bisa diselamatkan karena jatuh ke laut. Namun ia meyakinkan bahwa satelit itu sudah diasuransikan sepenuhnya.


Namun bagaimana pun juga tentu ini merupakan suatu kerugian besar dan kabar yang tidak mengenakkan bagi kita, ya.

Perlu kita ketahui bahwa Satelit Nusantara Dua ini merupakan rakitan dari produsen satelit asal Tiongkok, China Great Wall Industry Corporation. Satelit ini juga diluncurkan dengan menggunakan roket Long March 3B dari pusat peluncuran satelit  Xinchang, China.

Peluncuran Satelit Nusantara Dua ini merupakan bentuk kerja sama Indosat Ooredoo dengan  PT Pintar Nusantara Sejahtera dan PT Pasifik Nusantara.

Semoga kejadian ini menjadi pelajaran bagi bangsa kita agar lebih memperhatikan rekan kerja sama agar tidak terjadi hal yang tidak diinginkan. (Ded)

NASA dan Tim Nova-C segera Bangun Kehidupan di Bulan dalam Waktu Dekat

NASA dan Tim Nova-C segera Bangun Kehidupan di Bulan dalam Waktu Dekat

Teknopartner.id -Tidak puas dengan pendaratan pertama oleh Neil Amstrong dan tim di bulan pada tahun 1969 silam,  NASA kini kembali bertekad membangun kehidupan di bulan dengan cara yang tentu lebih canggih.

Kali ini NASA bekerja sama dengan perusahaan kawakan yang bergerak di bidang Antariksa dan Persenjataan alat berat Tim Nova-C yang merupakan bagian dari “Intuitive Machine”.
image: intuitive machines
Keberangkatan NASA dan Tim Nova-C nantinya akan menggunakan pesawat ruang angkasa robotic yang dirancang khusus oleh Tim Nova-C “Intuitive Machine”.

Pesawat ruang angkasa robotik Nova-C ini sudah dirancang khusus untuk pendaratan di area Vallis Schröteri yang merupakan lembah terluas di bulan, lembah ini disebut juga “Samudra Badai” yang tampak seperti lautan.
Pemilihan tempat pendaratn tersebut tentunya bukan asal-asalan saja, tetapi sudah dipelajari secara mendalam oleh Tim Nova-C. Area tersebut diperkirakan bebas dari bebatuan besar yang bisa mengancam keselamatan pesawat robotic Tim Nova-C.


Misi pendaratan ini dijadwalkan pada bulan Oktober 2021 nanti. Waw, jika saja misi untuk membangun kehidupan baru di bulan kali ini berhasil bakal ada yang pindah planet, dong.

Stephen Altemus, presiden dan CEO “Intuitive Machine” menyatakan bahwa upaya luar biasa yang dilakukan timnya adalah untuk memastikan keberhasilan misi besar ini dan untuk memenuhi kewajiban mereka kepada pelanggan setianya, yaitu NASA.

Pendaratan Tim Nova-C di area Vallis Schröteri diperkirakan sampai setelah enam hari terhitung dari lepas landas di Space X Falcon Center NASA, Florida. Misi ini dilaksanakan atas kerjasa sama yang ditandatangani antara Nova-C dengan Liunar Payload Service (CLPS) yang merupakan program NASA.

Tim Nova-C bukanlah satu-satunya perusahaan antariksa yang pernah bekerja sama dengan NASA dalam misinya. Sebelumnya juga ada Orbit Beyond, yang pernah memenangkan kontrak CLPS pada tahun 2019 tetapi belum membuahkan hasil yang sesuai.

Penejelajahan ini ditujukan untuk membangun keberadaan manusia yang berkelanjutan di sekitar bulan pada akhir dekade nantinya. Jika pendaratan ini membuahkan hasil bagi kehidupan manusia di bulan, tentu ini menjadi penemuan terbesar sepanjang abad 21 ini. (Ded)